Pengalaman Naik Angkot Balikpapan

Kondisi beberapa angkot Balikpapan yang telah "sepuh" dan perlu dilakukan peremajaan demi kenyamanan penumpang.
Kondisi beberapa angkot Balikpapan yang telah "sepuh" dan perlu dilakukan peremajaan demi kenyamanan penumpang.

Cerita saya hari ini mungkin bagi sebagian orang adalah hal yang biasa dialami. Tapi bagi saya yang sudah mungkin hampir 15 tahunan lebih tidak naik angkot di Balikpapan adalah suatu yang berbeda.

Selama ini mungkin hanya mendapatkan cerita bagaimana rasanya naik angkot di saat ramainya mode transportasi berbasis online yang menjamur bak di musim hujan. Hari ini jadi seperti memiliki pengalaman yang baru dan berbeda. Padahal waktu masih sekolah SMA dulu naik angkot juga. Tapi kali ini terasa berbeda aja. Dengan jurusan dari arah Melawai di depan Kantor P3E Kalimantan menuju rumah di sekitaran Jalan Ruhui Rahayu kuawali cerita pengalaman naik angkot Balikpapan kumulai.

Menunggu Angkot

Mungkin dikarenakan lokasi yang berada di daerah yang agak jauh dari pemukimam penduduk membuat agak lama mendapatkan angkot di daerah Melawai ini. Lumayan lah sekitar 5 menitan baru dapat naik angkot. Hingga akhirnya mendapatkan angkot yang sesuai dengan arah jurusannya ke Balikpapan Permai.

Tapi ternyata amgkotnya lumayan sudah “sepuh” alias angkot tua, membuat perjalanan menuju BP untuk sebutan Balikpapan Permai sudah bisa dipastikan tidak nyaman. Ternyata ketidaknyaman bukan hanya karena angkotnya sudah tua, tapi rute yang dilewati muter-muter dulu ke jalan tanjungpura melewati jalan milono. Saya pikir muter-muternya sudah selesai, eh… ternyata angkot harus mengambil rute ke jalan Mayjen Sutoyo untuk mengantarkan penumpang ke Gunung Malang yang memang telah naik angkot ini sebelum saya.

Akhirnya setelah sekitar 30 menit melewati kemacetan jalan Sudirnan dan muter-muternya, sampai juga di Balikpapan Permai. Lokasi yang telah dianggap sebagai terminal untuk menaik dan menurunkankan penumpang angkot yang sebenarnya Balikpapan Permai ini bukan merupakam terminal resmi tapi hanya sebagai putaran angkot saja.

Tiba di Balikpapan Permai, langsung mendapatkan angkot yang menuju ke Jalan Ruhui Rahayu. Tapi kali ini saya harus menunggu sekitar 10 menitan di dalam angkot yang ngetem. Masalah utama nunggu di dalam angkot yang ngetem itu mungkin hampir sama seperti nunggu telpon dari pacar yang ga peka-peka kali ya (pengalaman masa lalu).

Sopir Angkot Racing

Dapat angkot dengan driver yang bukan orang Balikpapan saya anggap itu biasa aja, karena ya namanya juga kota miniatur Indonesia, jadi pasti banyak pendatang yang berusaha mengadu nasib di kota tempat saya lahir dan dibesarkan hingga berkeluarga ini. Tapi batin saya sudah merasakan bahwa driver angkot yang saya tumpangi ini adalah driver racing. Bukan sok jadi dukun yang bisa melihat karakter seseorang, tapi lebih kepekaan sosial yang membuat kita bisa menilai karakter seseorang dari cara dia berbicara kepada orang lain atau pencet-pencet klakson saat ngetem.

Dan ternyata penilaian saya benar terbukti. Driver angkotnya memang driver angkot racing. Bayangkan aja, rute Balikpapan Permai menuju Jalan Ruhui Rahayu tepatnya simpang depan Taman Tiga Generasi yang macet saat senja hari bisa ditempuh sekitar 15 menitan. Dan itu bukan rute lurus, karena angkot harus mengambil rute melambung melewati depan SMK Negeri 3 Balikpapan.

Bayar dan Kembalian Lebih

Penasaran dengan harga naik angkot di Balikpapan karena kelamaan tidak pernah naik angkot, membuat saya memberanikan bertanya dengan salah satu penumpang yang kelihatannya sudah terbiasa naik angkot. “Mohon maaf bu, berapa ya harga naik angkotnya?”, gaya-gaya bertanya seperti warga pendatang yang baru naik angkot Balikpapan. Dengan agak berbisik biar tidak kedengaran oleh driver, si ibu penumpang menjawab pertanyaan saya. “Lima ribu mas. Sebenarnya empat ribu sih. Tapi ya gitu, kalau kita kasih lima ribu ga pernah dibalikin.” Dan ternyata memang seperti itu kejadiannya. Waktu turun dari angkot, sopirnya saya kasih duit Lima Ribu Rupiah. Dan ya begitu lah… Tanpa kata-kata sopirnya pun berlalu tanpa memberikan kembaliannya.

Tapi ada kejadian yang harusnya bisa jadi untung besar ini. Disaat saya turun dari angkot di depan Taman Tiga Generasi. Saya beri sopir angkotnya duit Sepuluh Ribu. Dan si sopir dengan muka bete memberikan kembalian duit saya menjadi Empat Puluh Lima Ribu Rupiah.

Tapi dasar lagi pengen jadi orang baik, saya bilang ke sopir angkotnya, “Bos, uang saya tadi berapa?” Dengan rada kesel mungkin karena penumpangnya ngasih uang gede, sopirnya bilang, “kan uangnya tadi Lima Puluh Ribu” Saya sautin aja, “coba dicek dulu” Dan akhirnya si sopir angkotpun tersenyum dan mungkin berpikir dia yang salah ngasih uang kembalian.

Ya… Begitulah pengalaman asik saya naik angkot Balikpapan yang mungkin untuk sebagian orang adalah bukan pengalaman yang luar biasa.

Tetap tersenyum hadapi hidup, walaupun terkadang kita tidak merasa nyaman untuk menjalaninya.
Percaya, segala sesuatunya sudah ada yang mengaturnya dan atas seizin Alloh SWT.

Wassalaam,

Bambang Herlandi
Warga Kota Balikpapan yang kebetulan sebagai member Komunitas Blogger Balikpapan

6 Comments

  1. Angkot yg kata orang balikpapan taksi. Ini pengalaman pertama naik angkot kembali dan dapat kembalian 45ribu? Pasti pak sopir lelah.
    Oya, setahu saya emang lima ribu klo naik angkot. Kasian juga klo dikasih 4ribu

    • Bener banget mbak…
      angkot = taksi (bahasa Balikpapannya)

      dapat 45ribu kembalian itu, mungkin dia lelah
      hahaha…

      Tengyu ya mbak Lidha

  2. Memang asik naik angkot ya.. Dibelai hembusan angin.. Yg kdg diselingi bau sedap kl penumpang lainnya ada yg blm mandi? Atau eneg kr terlalu wangi! Hahaha

    • hahaha…
      itulah asiknya
      sampai2 pengen naik angkot untuk dapatin cerita yang bisa dijadikan tulisan

      tengyu sudah mampir di blog saya kaka

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

This site is using OpenAvatar based on