KWPLH Balikpapan Akan Ditutup, Apa Pedulimu?

Gerbang KWPLH Km 23 Balikpapan (sumber foto: http://obisurya.files.wordpress.com)

Beginilah kalau semuanya harus diukur dengan uang. Kawasan Wisata Pendidikan Lingkungan Hidup (KWPLH) yang berada di Km 23 jalan poros Balikpapan – Samarinda akan ditutup dan menjadi korban Kapitalisme yang ada diotak para penguasa yang hanya mementingkan untung dalam bentuk uang.

Jelas tertulis Kawasan Wisata Pendidikan Lingkungan Hidup. Tapi apa dukungan para penguasa dan petinggi kota ini terhadap Pendidikan dan Lingkungan Hidup???
Mungkin mereka akan merasa lebih untung apabila membangun Mall dan Tempat Hiburan Malam yang akan sangat menambah PAD dan pundi-pundi kekayaan mereka ketimbang membangun dan mengembangkan KWPLH yang notabene disana ada Beruang Madu yang menjadi maskot kota Balikpapan.
Atau sebaiknya hapuskan saja maskot Beruang Madu itu dari daftar maskot kota ini.

Lebih lanjut, simak liputan rekan2 Mongabay Indonesia tentang KWLPH yang akan ditutup berikut ini:

Dianggap Tak Menguntungkan, DPRD Balikpapan Tutup Area Pendidikan Lingkungan Hidup

Oleh Hendar (Kontributor Kalimantan Timur),  January 14, 2013 2:40 am
Pengunjung saat menyaksikan enklosur beruang madu. Foto: Hendar
Salah satu lokasi yang menjadi tempat pembelajaran tentang lingkungan, bagi anak-anak di Kota Balikpapan, kini terpaksa harus ditutup. Lokasi seluas 15 hektar bernama Kawasan Wisata Pendidikan Lingkungan Hidup (KWPLH) di Jl Soekarno-Hatta Km 23 ini, dalam waktu tiga bulan ini tidak akan lagi mampu membiayai segala operasional yang diperlukan.

KWPLH saat ini hanya bisa bertahan tiga bulan dari Januari 2013 hingga Maret 2013 mendatang dari dana pemerintah kota Balikpapan, setelah beberapa waktu lalu, DPRD Kota Balikpapan, mencoret dana keperuntukan KWPLH sebesar Rp 1,6 Miliar menjadi Rp 500 Juta.

Seperti yang dikatakan Ketua DPRD Kota Balikpapan, Andi Burhanuddin Solong, bahwa KWPLH tidak memberikan kontribusi untuk kota Balikpapan. ”Kalau memang ini pariwisata kenapa PAD tidak meningkat, apalagi di sana semua beruang cacat, lebih baik beruang tersebut dipindahkan ke habitatnya,” ungkap Andi Burhanuddin Solong kepada Mongabay Indonesia.

Beruang madu di KWPLH 23 Balikpapan. Foto: Hendar

Dari dana yang diberikan pemerintah kota Balikpapan sebesar Rp 1,6 Miliar, diputuskan untuk tahun 2013 hanya diberikan sebesar Rp 500 juta untuk kajian relokasi beruang madu yang berada di enklosur beruang madu KWPLH. Dana tersebut selain untuk kajian juga sebagai operasional untuk karyawan.

Rencana mengganti KWPLH menjadi bumi perkemahan, ternyata tidak merubah keputusan untuk menutup dan merelokasi beruang madu, yang hingga saat ini menjadi sahabat anak-anak di sekolah, dengan kurikulum muatan lokal yakni Pendidikan Lingkungan Hidup.

Ada pemikiran agar pemerintah kota menambah luaasan lahan di KWPLH untuk dijadikan bumi perkemahan. ”Kalau memang ingin dibangun bumi perkemahan ya mending ditambah luasan KWPLH lalu ditambah fasilitas perkemahan lainnya, seperti kamar mandi yang bisa memuat 300 orang, sehingga tidak perlu membongkar atau menghilangkan enklosur beruang,” kata Gabriella Fredriksson seorang peneliti Asal Belanda.

Sementara itu, ternyata jumlah pengunjung Kawasan Pendidikan Lingkungan Hidup (KWPLH) yang terletak di Km 23, Jl Soekarno Hatta tidak bisa dibilang sedikit. Pada tahun 2012 lalu, pihak KWPLH mencatat sekitar 60 ribu pengunjung yang menyaksikan enklosur beruang.

Enklosur beruang madu yang ada di KWPLH merupakan enklosur kedua di Indonesia, setelah enklosur di Samboja Lestari. Meskipun hanya berdiri di lahan seluas 1,3 hektar, namun ini sudah cukup untuk menampung sekitar 6 beruang yang ada saat ini. Tidak ada pungutan apapun untuk menikmati enklosur ini, semua orang berhak melihat salah satu hewan yang dilindungi tersebut.

Gabriella Fredriksson peneliti Asal Belanda, mengatakan sangat susah menemui beruang madu yang hidup di alam, dan kalau pun bisa paling hanya bisa melihat di atas ubin kebun binatang. ”Jarang orang yang dapat melihat beruang madu yang berbaur dengan alam, seperti di enklosur beruang madu KWPLH. Hal ini merupakan pengalaman berharga bagi khususnya anak-anak sebagai salah satu pendidikan lingkungan hidup,” katanya.

Bagi Balikpapan yang kekurangan tempat hiburan dan wisata, keberadaan enklosur beruang madu tentunya menjadi salah satu daya tarik. Setiap akhir pekan, pengunjung KWPLH bisa mencapai 1000 orang.

Direktur KWPLH Hamsuri mengatakan. Untuk merubah kawasan yang rusak menjadi tempat yang sangat bermanfaat ini tidaklah mudah.  ”Sementara beberapa binatang beruang tersebut masih dalam kerangkeng besi di Kilometer 10 Inhutani  yang merupakan hasil sitaan BKSDA dan KWPLH masih menjadi tempat sampah, butuh waktu sebulan untuk membersihkan sampah-sampah tersebut,” ungkap Hamsuri.

Pemerintah propinsi pun ikut membantu untuk membangun beberapa lamin sebagai sarana pendidikan untuk pengunjung, hingga beberapa donatur dari luar negeri ikut serta membangun enklosur beruang madu. Pengalihan fungsi dari Argowiata menjadi KWPLH terjadi pada tahun 2005 sekitar bulan Juni dengan luasan yang tercatat sekitar 15 hektar.

”Setelah penetapan menjadi KWPLH, barulah dilakukan pembenahan, hingga banyak donatur, termasuk angaran propinsi untuk melakukan pembangunan lamin untuk kegiatan-kegiatan pendidikan masyarakat, hingga saat ini.” kata Hamsuri.

Sumber : http://www.mongabay.co.id/2013/01/14/dianggap-tak-menguntungkan-dprd-balikpapan-tutup-area-pendidikan-lingkungan-hidup/#ixzz2I6BbOmh8

8 Comments

  1. Hmn, Cuma gara- gara kurang menguntungkan, sampai cagar budaya milik nasional ingin ditutup.Bukannya cara seperti itu malah membuat ciri khas kota samarinda hilang yah.

    • Bener mas.
      mungkin kapitalisme memang sudah merasuki otak para pejabat kita. sampai-sampai semuanya harus dinilai dengan uang.
      kalau tidak ada untungnya dalam bentuk uang, maka mereka menganggap tidak untung.
      Padahal keuntungan lebih besar apabila kita bisa mempertahankan lingkungan hidup kita, apalagi untuk pendidikan.
      karena sesungguhnya ilmu akan lebih menguntungkan ketimbang uang 🙂
      Tengyu dah mampir diblog saya 🙂

  2. kepada mas agus, terima kasih atas komentarnya. tapi sedikit ada ralat, KWPLH bukan di kota Samarinda tapi di kota Balikpapan. Menurut saya, ini adalah masalah yang sangat serius. Keprihatinan yang mendalam pasti akan banyak mengalir dr berbagai pihak mengingat enklosur beruang madu sangat jarang ditemukan . Tapi hal ini saja tidak akan cukup, tanpa adanya pembicaraan yang serius dari pihak DPRD, Dinas Pariwisata Kota dan Provinsi, Pengamat Lingkungan & Cagar Budaya, serta masyarakat. Pasti ada langkah yg lebih bijaksana utk mengatasi permasalahan dana operasional selain menutup objek tsb. Pemerintah tidak bisa mengambil langkah sepihak, harus dilakukan peninjauan dampak positif dan negatif dr keputusan yg diambil. Apabila dikenakan ongkos masuk objek wisata sekitar Rp 5000/org, dalam 1 minggu jumlah pengunjung kurang lebih 1200 orang maka dalam 1 bulan income yg diperoleh utk biaya operasional adalah Rp 24.000.000,- Belum lagi jika ada hari libur, tentu jumlah pengunjung akan lebih banyak. setidaknya ini cukup membantu dalam biaya operasional yang menjadi permasalahan pemerintah selama ini, serta KWPLH akan tetap menjadi kebanggaan Indonesia di mata dunia, khususnya bagi kota Balikpapan.

    • bener banget….
      padahal mereka itu “kelihatannya” berlebih dibanding kita.
      tapi saya heran, masih aja kekurangan 🙁

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

This site is using OpenAvatar based on